May272012

Reblog with your school. Be proud.

  • matangdilat: Divine Light Academy Las Pinas.
  • wondergilou: Polytechnic university of the Philippines.
  • sarcasticsandra: Canossa Academy Calamba.
  • urlnimegan: Canossa College San Pablo City.
  • aikaaholic: University of Santo Tomas.
  • cookiecaramel: Assumption College Makati.
  • mandalawangi: Nur Hidayah Integrated Islamic Senior High School
  • nnndaru: TK Bhayangkari Pemalang Indonesia
  • belindch: Gadjahmada University, Indonesia
  • masgun : Bandung Institute of Technology , Indonesia
  • yustinputri: Universitas Sriwijaya, Indonesia.
  • enggarwardhani: Sriwijaya University, Indonesia
  • achmadlutfi: Ostfalia University of Applied Sciences
  • tazy: Ghent University, Belgium
  • fitrisafira: PPM School of Management, Jakarta
  • muhammadbening: Nanyang Technological University, Singapore
2PM

#CEOmeeting with Houtman Zainal Arifin (Ex-VP of Citibank)

9 Mei 2012, Wisma Nugraha Santana, Jakarta Pusat.

Sedikit perkenalan buat CEO kali ini. Nama beliau Houtman Zainal Arifin, biasa dipanggil Houtman. Beliau tamatan SMA yg sekarang mengajar mahasiswa pascasarjana. Beliau memulai karir dari office boy sampai VP Citibank.

Btw, saya kurang tertarik tentang gimana langkah-langkah yang beliau tempuh dalam meniti karir. Jadi, yang ingin saya share disini adalah nilai-nilai yang beliau pelajari dari kehidupan.

Beliau mengawali sharing session kali itu dengan pernyataan, “kita diciptakan oleh Tuhan yang sama.”

Pernyataan tsb sangat menarik. Bagaimana tidak, pernyataan tersebut dapat meleburkan semangat perbedaan sesama umat.beragama. Sehingga ada rasa kasih sayang, sikap saling menghargai, tanpa menihilkan semangat ketuhanan dan semangat menjalankan kewajiban.ibadah masing-masing individu.

Beliau lanjut bercerita tentang “unwritten CV (curriculum vitae)” atau riwayat hidup tidak tertulis (RHTT). Dalam praktik dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat, written CV tidak selalu punya andil besar. Banyak kasus dimana unwritten CV matters. UCV meliputi karakter, akhlaq, dan kepercayaan. UCV harus dijaga seumur hidup. Karena sekali kita lengah, cap-cap negatif bisa menempel pada diri kita seumur hidup. Kemudian, sebisa mungkin, kita harus menghindari kepura-puraan. Karena kepura-puraan hanya akan bikin kita capek dan suatu saat keburukan yang disembunyikan tsb pasti ketahuan.

Selanjutnya saya hanya akan menuliskan poin-poin pnting dari.sharing tersebut karena ditakutkan postingan akan terlalu panjang.dan menjemukan.

  • Diberikan masalah berarti kita masih diakui. Sama halnya dengan mahasiswa yang diberi ujian, mereka diberi ujian karena diakui sebagai mahasiswa kampusnya. Problem is the real reason why we are still alive.
  • Jadi politisi nggak bisa lepas dari kepura-puraan, makanya beliau nggak terjun ke dunia politik. —> Saran saya buat yg mau terjun ke dunia politik, sebisa mungkin tiadakan kepura-puraan. Bagaimanapun, negeri ini butuh orang berkompeten (not the second best!) untuk “main-main lumpur” di kancah perpolitikan.
  • Untuk maju, dekatlah dengan orang-orang yang susah untuk melatih diri agar peka. Parliament these days do not know what is proper. Pemberian tunjangan puluhan juta dan penambahan armada pesawat kepresidenan disaat banyak jutaan rakyat hidup miskin kronis, adalah sangat tidak layak. Minimnya kepekaan sosial ini seyogyanya adalah salah satu permasalahan besar negeri ini. Jadi, ayo peka!
  • Berhati-hati lah dengan kekuasaan.
  • Intellectuality is given. Banyak anak Indonesia yang jenius kok. Jadi, jangan minder!
  • Sense of belonging bangsa ini masih minim.
  • Di Vietnam nggak ada pengemis loh! #manakaraktermu hai bangsaku!
  • Negeri ini hancur karena menyetujui kebiasaan. Kebiasaan yang buruk, kebiasaan melanggar. Bangsa ini hancur karena tidak malu, tidak malu mempermalukan diri sendiri. Jadi, yuk sama-sama kita membiasaakan kebenaran!
  • Motivasi terbesar beliau adalah saya tidak mau jadi orang sembarangan.
  • Peluang baru akan setelah kita berbuat.
  • Saya mendera diri saya untuk sukses.
  • Penyakit lain bangsa ini adalah tidak berani maju ke atas panggung ketika ada kesempatan dan malu bertanya.
  • Kita akan dapat tambahan energi jika berteman. 1+1 = minimal 27.
  • Kita saling membutuhkan. Bos butuh bawahan. Contoh: Bawahan butuh bos. Naik pangkat butuh atasan. Bos dapat pujian jika kinerja pegawainya memuaskan klien.
  • Paradigma keharusan putera daerah yg mengepalai suatu daerah adalah absurd. Harusnya yang maju adalah yang terbaik dong!?
  • Salah kaprah kalo makin miskin makin gigih. Faktanya, banyak orang miskin yang mandeg pemikirannya dan banyak orang kaya yang sukses besar.
  • Life is all about oppurtunities (timing, condition, situation, etc.) so, grab them!
  • Takdir sudah ditentukan, tapi nasib kita yang nentukan.
  • Dekatlah dengan Sang Pemberi Kesempatan.
  • Bangsa ini masih ogah bercita-cita besar.
  • Mau maju? Harus tepat waktu! Kalo bisa malah curi start.
  • Bikin kesalahan boleh, asal bikinan sendiri.
  • Kenapa kita mau hebat di luar, tapi rumah tangga berantakan. —> Ini salah satu alasan beliau untuk.resign dari Citibank. Karena waktu beliau menjabat jadi VP (vice-president), beliau diharuskan pindah kantor di Hong Kong. Beliau menolak pemindahan tsb karena akan jauh dari keluarga dan workloadnya sangat menyita waktu sehingga waktu untuk anak dan istri sangat minim. *saya salut ke Pak Houtman.”
  • Mahasiswa adalah sebuah tatanan terhormat.
  • Bangun malam —> waktu otak dan hati jernih.

Banyak juga yah poin-poin yg saya rasa penting dari sharing session kali itu. Satu hal yang unik dari perjalanan hidup Pak Houtman adalah he can always “obtain” much more learning points than people normally can, from his experiences.

Saya akhiri dengan percakapan singkat sebelum kami (SxC team members n guest stars) berpisah. “Akhirnya, semua potensi akan diadu, tapi SDA lah yang menang. Dan ketahuilah, Indonesia adalah negara yang paling kaya akan SDA. So, get ready!”

Karena ini sharing session, jadi emang pembicaraannya.kesana kenari. Mulai dari pengalaman spiritual Pak Houtman sampai pendapat beliau terhadap negeri ini.

Thanks to Wilma Zulianti who informed me about the oppurtunity to be a guest star, and the warm welcome of SxC Jakarta-chapter team members who attended that #CEOmeeting.

Semoga tulisan ini bermanfaat! :)

May202012
Lagi baca Nasional.is.me @ Stasiun Manggarai

Lagi baca Nasional.is.me @ Stasiun Manggarai

book 

May172012
“The loudest person in the world who says that you can’t make it, is yourself.” Margareta Astaman dalam Fresh Graduate Boss

(Source: kuntawiaji)

9AM
“Dalam hal karier, kita selalu terburu-buru. Harus buru-buru lulus. Harus buru-buru mendapat kerja. Harus buru-buru selesai kerja. Harus buru-buru naik pangkat. Menjadi yang terdepan memang penting. Tetapi, dalam balapan, saat menjadi yang tercepat, seseorang bisa jadi kehilangan esensi dari pekerjaan dan karier itu sendiri.” Margareta Astaman dalam Fresh Graduate Boss

Agree!

(Source: kuntawiaji)

May72012

Menanggapi postingan sebelumnya: Lingkaride PPIA Episode 20

Pada exam period yang lalu, saya sempat memuat video Lingkaride PPIA Episode 20: Proses Adopsi E-Government untuk Indonesia oleh Rino Nugroho di tumbleblog ini.

Sekedar informasi forum lingkaride diinisiasi oleh beberapa teman dari PPIA Victoria, dan ide serupa telah merambat ke belahan dunia lain dan dieksekusi oleh teman-teman dari PPI di sana. Hal yang menarik dari ide semacam ini ialah, banyak dari riset di-highlight ialah penelitiannya yang punya sumbangsih besar kepada Indonesia. Salah satunya yaitu penerapan e-government oleh Rino Nugroho ini.

Coba kita amati seberapa besar involvement teknologi informasi dalam hal-hal sederhana seperti pengurusan KTP dan pendaftaran sekolah di Indonesia saat ini. Pengurus KTP harus melewati birokrasi yang berlapis mulai dari RT sampai ke Kecamatan. Proses ini sangat tidak efektif dari segi waktu dan membuka lahan korupsi di instansi-instansi terkait.

Warga yang berduit dan sibuk, akan cenderung untuk mengambil.jalan pintas, sedangkan warga miskin menjadi makin apatis dengan pemerintah dikarenakan ribetnya birokrasi ini. Walaupun, contoh di atas agak ekstrem dan mendiskreditkan integritas masyarakat secara keseluruhan, kita semua sama-sama tahu bahwa praktik korupsi di tingkat kecamatan sampai ke RT benar-benar terjadi. Apatisme di kalangan masyarakat kecil adalah.salah satu ekstrem akibat bounce-back dari kegagalan pemeritah menyediakan infrastruktur yang gampang dan gak pake nyogok. Efek serupa juga terjadi pada proses pendaftaran sekolah.

Melihat negeri tetangga, Singapura, kita bisa mengambil value yang dijunjung oleh public service mereka. Hampir semua proses dapat dilakukan online dan tidak ada toleransi terhadap hukum yang dipakai. Semua praktik bisa ditelusuri dan diaudit. Transparansi inilah yang berhasil meminimalkan celah praktik KKN dan memberikan kenyamanan pada warga negaranya.

Bagaimanapun, kita tidak boleh membandingkan Indonesia dengan negara lain secara gamblang, “it is not an apple to apple comparison” (Pandji). Tapi disini saya mengajak, yuk kita bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah ke arah digitalisasi birokrasi untuk Indonesia yang lebih baik.

Masalah banyak masyarakat yang belum melek informasi bisa diatasi dengan sosialisasi teknologi yang akan diterapkan sebelum launching. Pemerintah juga bisa menyediakan portal-portal di instansi terkait bagi warga yang tidak punya akses internet di rumah mereka.

Dengan meminimalisir celah praktik korupsi, kita akan dapati bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan terintegritas. Di bidang pendidikan, outputnya tentu bakal lebih oke dong… Di masa mendatang saya rasa Indonesia akan butuh lebih banyak lagi ekspert-ekspert di bidang ICT (information dan communication technology) sebagai programmer, analyst, dan untuk maintenance, dalam penerapan ide e-government ini secara menyeluruh.

April182012

Lingkaride PPIA Episode 20: Proses Adopsi E-Government untuk Indonesia oleh Rino Nugroho

Penerapan Pemerintahan yang berbasis teknologi sudah saatnya diterapkan di Indonesia. Selain bisa menghemat banyak biaya juga bisa membantu efektifitas kerja Pemerintah dalam melayani rakyat. Akan tetapi banyaknya pegawai Pemerintahan yang belum paham akan pemanfaatan dan pendayagunaan teknologi yang menyebabkan tidak efektif nya penggunaan perangkat teknologi dalam menjalankan tugas. 

April152012

This maybe a new controversy. Let’s analyse after #examperiod

What Must Be Said Must Be Shared

by Aufar Kari on Sunday, April 15, 2012 at 6:36pm ·

In this post-apocalyptic consumerist era, our primary sources of education have ceased to consist of Hollywood movies or MTV or both. Rather cliche perhaps, however true. Their biggest invention being the RAVs school of thougt, leads us to believe that in the Israel versus Iran affair, the latter is the real douchecopter. Anything that goes against this conventional bull manure will be dismissed to either come from an imbecile or a satanist or both. So when a non-satanist, non- imbecile gentle man named Gunter Grass came with his poem, What Must Be Said, this humble author of yours got a little too excited. The fact that Gunter Grass is also a recipient of Nobel Prize in Literature signifies that apart from being a non-imbecile and non-satanist, this gentle man is also considered some sort of smartass by the western audience. What become of this man after the publication of his poem is pretty much predictable, Israel has recently declared him persona non grata. There will be controversies, over-analysis, and over-interpretation of the poem by intellectual and pseudo-intellectual alike. But for the time being, please allow this author that has no sense of literature and no training in political affair, to share with you what must be shared. Ladies and gentlemen, without further ado:

What must be said

Why have I kept silent, held back so long,

on something openly practised in

war games, at the end of which those of us

who survive will at best be footnotes?

It’s the alleged right to a first strike

that could destroy an Iranian people

subjugated by a loudmouth

and gathered in organized rallies,

because an atom bomb may be being

developed within his arc of power.

Yet why do I hesitate to name

that other land in which

for years – although kept secret –

a growing nuclear power has existed

beyond supervision or verification,

subject to no inspection of any kind?

This general silence on the facts,

before which my own silence has bowed,

seems to me a troubling, enforced lie,

leading to a likely punishment

the moment it’s broken:

the verdict “Anti-semitism” falls easily.

But now that my own country,

brought in time after time

for questioning about its own crimes,

profound and beyond compare,

has delivered yet another submarine to Israel,

(in what is purely a business transaction,

though glibly declared an act of reparation)

whose speciality consists in its ability

to direct nuclear warheads toward

an area in which not a single atom bomb

has yet been proved to exist, its feared

existence proof enough, I’ll say what must be said.

But why have I kept silent till now?

Because I thought my own origins,

tarnished by a stain that can never be removed,

meant I could not expect Israel, a land

to which I am, and always will be, attached,

to accept this open declaration of the truth.

Why only now, grown old,

and with what ink remains, do I say:

Israel’s atomic power endangers

an already fragile world peace?

Because what must be said

may be too late tomorrow;

and because – burdened enough as Germans –

we may be providing material for a crime

that is foreseeable, so that our complicity

will not be expunged by any

of the usual excuses.

And granted: I’ve broken my silence

because I’m sick of the West’s hypocrisy;

and I hope too that many may be freed

from their silence, may demand

that those responsible for the open danger

we face renounce the use of force,

may insist that the governments of

both Iran and Israel allow an international authority

free and open inspection of

the nuclear potential and capability of both.

No other course offers help

to Israelis and Palestinians alike,

to all those living side by side in enmity

in this region occupied by illusions,

and ultimately, to all of us.

Günter Grass

Translated by Breon Mitchell.

10PM
April92012
← Older entries Page 1 of 80